Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia

Infobrief ini memberikan gambaran awal tentang 17 proyek percontohan REDD+ yang dikembangkan di Indonesia pada pertengahan tahun 2009. Terdapat variasi yang tinggi dalam pelaksanaan dan uji coba proyek percontohan REDD+ yang dilakukan oleh para pemrakarsa. Tiga dimensi utama yang bermanfaat untuk me...

Full description

Bibliographic Details
Main Authors: Madeira, E.M., Sills, E., Brockhaus, Maria, Verchot, Louis V., Kanninen, M.
Format: Brief
Language:Indonesian
Published: Center for International Forestry Research 2010
Subjects:
Online Access:https://hdl.handle.net/10568/20809
_version_ 1855520653278445568
author Madeira, E.M.
Sills, E.
Brockhaus, Maria
Verchot, Louis V.
Kanninen, M.
author_browse Brockhaus, Maria
Kanninen, M.
Madeira, E.M.
Sills, E.
Verchot, Louis V.
author_facet Madeira, E.M.
Sills, E.
Brockhaus, Maria
Verchot, Louis V.
Kanninen, M.
author_sort Madeira, E.M.
collection Repository of Agricultural Research Outputs (CGSpace)
description Infobrief ini memberikan gambaran awal tentang 17 proyek percontohan REDD+ yang dikembangkan di Indonesia pada pertengahan tahun 2009. Terdapat variasi yang tinggi dalam pelaksanaan dan uji coba proyek percontohan REDD+ yang dilakukan oleh para pemrakarsa. Tiga dimensi utama yang bermanfaat untuk mengelompokkan proyek-proyek percontohan tersebut adalah: 1) tingkat perencanaan tata ruang dan heterogenitas dari klasifikasi hutan, 2) strategi untuk menyelesaikan klaim jangka panjang terhadap karbon, dan 3) faktor pendorong dan penyebab utama deforestasi dan degradasi. Lazimnya, model konsesi dalam contoh proyek percontohan REDD+ ini dijelaskan berdasarkan kesesuaiannya dengan tata kawasan tenurial yang berlaku saat ini dan dengan prasyarat untuk menunjukkan kepemilikan karbon jangka panjang yang terjamin sebagai syarat untuk menjual kredit di pasar karbon sukarela. Proyek-proyek percontohan REDD+ yang menerapkan model konsesi berisiko meneruskan bias dan hambatan terhadap sistem konsesi yang ada saat ini, termasuk fokus pada hutan produksi dan kecenderungan untuk tidak melibatkan petani kecil dalam keputusan-keputusan tentang pengelolaan. Menanggapi adanya ketidaksetaraan dan ketidakefisienan dari tata kawasan tenurial yang berlaku saat ini membutuhkan reformasi kebijakan yang lebih luas dan tindakan berskala lebih besar daripada apa yang mungkin dapat dicapai oleh proyek percontohan individu. Tingginya biaya-biaya transaksi menghambat pengembangan proyek percontohan yang bermitra langsung dengan para petani kecil dalam mengurangi emisi. Berbagai model dan strategi baru harus dikembangkan untuk mengurangi biaya-biaya transaksi ini, contohnya dengan menyatukan atau menggabungkan inisiatifinisiatif kecil menjadi kegiatan yang lebih besar. Penelitian lebih lanjut diperlukan, baik untuk menilai dampak dari berbagai tipe proyek percontohan yang berbeda maupun untuk memperbaharui klasifikasi ini agar lebih dapat merefleksikan pesatnya pertambahan jumlah proyek percontohan REDD+ dan cepatnya perubahan kerangka kerja kelembagaan maupun peraturan untuk REDD+ di Indonesia.
format Brief
id CGSpace20809
institution CGIAR Consortium
language Indonesian
publishDate 2010
publishDateRange 2010
publishDateSort 2010
publisher Center for International Forestry Research
publisherStr Center for International Forestry Research
record_format dspace
spelling CGSpace208092025-01-24T14:12:30Z Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia Madeira, E.M. Sills, E. Brockhaus, Maria Verchot, Louis V. Kanninen, M. redd-plus deforestation climate change spatial analysis degradation Infobrief ini memberikan gambaran awal tentang 17 proyek percontohan REDD+ yang dikembangkan di Indonesia pada pertengahan tahun 2009. Terdapat variasi yang tinggi dalam pelaksanaan dan uji coba proyek percontohan REDD+ yang dilakukan oleh para pemrakarsa. Tiga dimensi utama yang bermanfaat untuk mengelompokkan proyek-proyek percontohan tersebut adalah: 1) tingkat perencanaan tata ruang dan heterogenitas dari klasifikasi hutan, 2) strategi untuk menyelesaikan klaim jangka panjang terhadap karbon, dan 3) faktor pendorong dan penyebab utama deforestasi dan degradasi. Lazimnya, model konsesi dalam contoh proyek percontohan REDD+ ini dijelaskan berdasarkan kesesuaiannya dengan tata kawasan tenurial yang berlaku saat ini dan dengan prasyarat untuk menunjukkan kepemilikan karbon jangka panjang yang terjamin sebagai syarat untuk menjual kredit di pasar karbon sukarela. Proyek-proyek percontohan REDD+ yang menerapkan model konsesi berisiko meneruskan bias dan hambatan terhadap sistem konsesi yang ada saat ini, termasuk fokus pada hutan produksi dan kecenderungan untuk tidak melibatkan petani kecil dalam keputusan-keputusan tentang pengelolaan. Menanggapi adanya ketidaksetaraan dan ketidakefisienan dari tata kawasan tenurial yang berlaku saat ini membutuhkan reformasi kebijakan yang lebih luas dan tindakan berskala lebih besar daripada apa yang mungkin dapat dicapai oleh proyek percontohan individu. Tingginya biaya-biaya transaksi menghambat pengembangan proyek percontohan yang bermitra langsung dengan para petani kecil dalam mengurangi emisi. Berbagai model dan strategi baru harus dikembangkan untuk mengurangi biaya-biaya transaksi ini, contohnya dengan menyatukan atau menggabungkan inisiatifinisiatif kecil menjadi kegiatan yang lebih besar. Penelitian lebih lanjut diperlukan, baik untuk menilai dampak dari berbagai tipe proyek percontohan yang berbeda maupun untuk memperbaharui klasifikasi ini agar lebih dapat merefleksikan pesatnya pertambahan jumlah proyek percontohan REDD+ dan cepatnya perubahan kerangka kerja kelembagaan maupun peraturan untuk REDD+ di Indonesia. 2010 2012-06-04T09:15:12Z 2012-06-04T09:15:12Z Brief https://hdl.handle.net/10568/20809 id Open Access Center for International Forestry Research Madeira, E.M., Sills, E., Brockhaus, M., Verchot, L.V., Kanninen, M. 2010. Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia . CIFOR Infobrief No.38. Bogor, Indonesia, Center for International Forestry Research (CIFOR). 8p
spellingShingle redd-plus
deforestation
climate change
spatial analysis
degradation
Madeira, E.M.
Sills, E.
Brockhaus, Maria
Verchot, Louis V.
Kanninen, M.
Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia
title Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia
title_full Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia
title_fullStr Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia
title_full_unstemmed Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia
title_short Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+?: Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia
title_sort apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan redd klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di indonesia
topic redd-plus
deforestation
climate change
spatial analysis
degradation
url https://hdl.handle.net/10568/20809
work_keys_str_mv AT madeiraem apakahyangdimaksuddenganproyekpercontohanreddklasifikasiawalberdasarkanbeberapakegiatanawaldiindonesia
AT sillse apakahyangdimaksuddenganproyekpercontohanreddklasifikasiawalberdasarkanbeberapakegiatanawaldiindonesia
AT brockhausmaria apakahyangdimaksuddenganproyekpercontohanreddklasifikasiawalberdasarkanbeberapakegiatanawaldiindonesia
AT verchotlouisv apakahyangdimaksuddenganproyekpercontohanreddklasifikasiawalberdasarkanbeberapakegiatanawaldiindonesia
AT kanninenm apakahyangdimaksuddenganproyekpercontohanreddklasifikasiawalberdasarkanbeberapakegiatanawaldiindonesia